Bhinekka Tunggal Ika Di Kaimana, Papua Barat
Kaimana merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di provinsi Papua Barat. Kaimana
resmi menjadi suatu kabupaten pada 11 Desember 2002 berdasarkan Undang – Undang Nomor 26
Tahun 2002. Ibukota kabupaten ini terletak di distrik Kaimana. Kabupaten Kaimana memiliki kondisi
geografis yang cukup lengkap, karena kondisi geografis wilayah ini meliputi perbukitan, gunung, dan
pantai. Kabupaten ini memiliki delapan suku asli, yaitu Koiway, Kuri, Mairasi, Oburau, Madewana,
Napiti, Miere, dan Irarutu. Kedepalan suku ini hidup saling berdampingan tanpa ada masalah satu
sama lain. Wilayah Kabupaten Kaimana terdiri dari 7 distrik / kecamatan, yaitu Distrik Kaimana.
Distrik Teluk Arguni Atas, Distrik Teluk Arguni Bawah, Distrik Teluk Etna, Distrik Buruway, Distrik
Kambrauw, dan Distrik Yamor. Populasi di Kaimana terhitung pada tahun 2021 mencapai 64.762
jiwa yang terdiri dari 33.543 laki – laki dan 31.219 perempuan. Kondisi kehidupan beragama di
Kaimana cukup beragam, berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Dalam Negeri pada tahun
2021, terdapat 57,88% penganut agama Kristen yang terdiri dari 48,80% Protestan dan 9,08%
Katolik. Selain itu terdapat 42,04% penganut agama Islam, 0,06% penganut agama Hindu, dan 0,02%
penganut agama Budha dan Konghucu.
Seperti yang sudah disebutkan diatas bahwa kondisi kehidupan beragama di Kaimana cukup
plural. Namun hal ini menjadi salah satu kebanggan bagi orang Kaimana sendiri karena walaupun
kehidupan beragama di Kaimana beragam, akan tetapi semuanya hidup berdampingan tanpa
memandang perbedaan tersebut. Masyarakat Kaimana memiliki kesadaran akan nilai – nilai
kebhinekaan yang sangat tinggi. Hal ini dibuktikan dengan tidak pernah ada kasus pelecehan ataupun
penistaan terhadap satu golongan agama tertentu di Kabupaten Kaimana. Bahkan pernah terjadi satu
kisah menarik dimana seorang Misionaris dari Amerika Serikat yang sedang mencoba menyiarkan
agama Kristen di salah satu pulau di Kaimana yaitu Namatota. Namatota sendiri merupakan kampung
yang seluruh masyarakat yang tinggal dan mendiami pulau tersebut beragama Islam. Bukannya
menolak ataupun mengusir Misionaris tersebut, masyarakat justru menyambut kedatangannya dengan
hangat dan dia pun diterima di lingkungan kampung Namatota.
Selain pada beberapa kampung, kebanyakan dari masyarakat Muslim Kaimana tinggal di
wilayah ibukota Kabupaten Kaimana. Walaupun populasi Muslim di daerah perkotaan Kaimana lebih
banyak, akan tetapi hal ini tidak menjadikan Muslim Kaimana menjadi besar kepala. Kaimana sendiri
memiliki satu tradisi yang secara konsisten dilakukan tiap tahun yang dilakukan pasca Idul Fitri yaitu
Hadrat dalam kota dan luar kota. Pada acara ini, dapat dirasakan secara langsung bagaimana
masyarakat Kaimana menerapkan nilai – nilai kebhinekaan itu sendiri. Dimana momen ini menjadi
ajang silaturahmi besar – besaran yang melibatkan masyarakat dari berbagai latar belakang suku, ras,
etnis, maupun agama. Bahkan, walaupun tradisi tersebut adalah milik masyarakat Muslim Kaimana,
akan tetapi mereka tidak menutup diri untuk masyarakat lainnya untuk bergabung dan saling
bercengkrama satu sama lain. Dari beberapa contoh diatas, dapat dilihat bahwa Kaimana merupakan
salah satu kabupaten di Indonesia yang bisa menjadi cerminan atau contoh dari penerapan Bhineka
Tunggal Ika yang baik dan benar.

Komentar
Posting Komentar